• Home
  • SMS Cinta
  • Kata Mutiara Cinta
  • Puisi Persahabatan
  • Kata Motivasi
  • Puisi Cinta
  • Kata Lucu
  • Pantun Lucu
  • Animasi Lucu
  • Humor Lucu
  • Pantun Jenaka

Kumpulan Cerpen Indonesia Terbaru 2017

Kumpulan Cerpen Indonesia Terbaru  2017
  • Kirim Cerpen
  • Cerpen
  • Puisi
  • Kata Mutiara
  • Naskah Drama
  • Cerita Rakyat
  • Cerita Lucu
  • Kata Bijak
  • Teks Pidato
  • Gambar Lucu
  • Kata Galau
Home » Cerpen Cinta » Cerpen Remaja » Cerpen Cinta Karya Rika Santia Sunari

Cerpen Cinta Karya Rika Santia Sunari

CERPEN CINTA
Karya Rika Santia Sunari

Aku terus menatapnya tanpa berkedip, senyum kecil terlukis di wajahku. Diam-diam aku mengarahkan lensa kamera ponsel ku kepadanya. Setelah mendapatkan fotonya aku langsung menyimpan ponselku kembali. Dia adalah cahaya bintang hatiku. 

Perkenalkan namaku Hana, aku murid kelas XI SMA. Hobiku belajar, menonton anime dan membaca cerita fiksi. Disekolah aku mengikuti ekskul mading dan aku menjabat sebagai sekretaris. Aku sangat senang menjadi anggota mading karena aku bisa dekat dengan orang yang aku sukai meski hanya sebentar. 

Orang yang ku sukai itu adalah Altair Bhagaskara biasa dipanggil Alta. Dia satu angkatan denganku dan satu jurusan namun tak sekelas. Dia itu mengikuti ekskul futsal tapi dia tak terkenal seperti pemain lainnya, dia juga tak menjadi bintang lapangan mungkin karena dia posisinya sebagai pemain cadangan. Tapi meskipun begitu, dia tetap menjadi bintang di hatiku karena namanya adalah salah satu dari beberapa bintang yang paling terang diangkasa sana. 

Hari ini aku kembali sibuk dengan kegiatan mading, aku sibuk menulis agenda untuk rapat nanti. 

“Hana, bisa panggilkan Mala? Aku mau tanya tentang keluaran keuangan bulan ini.”
“Bisa, kak.”

Aku keluar ruangan untuk memanggil Mala, namun saat aku sudah membuka pintu aku terkejut karena melihat Alta tengah berdiri dan tangannya terangkat seperti akan membuka pintu. 

“Alta?” ucapku spontan. 
Alta terlihat terkejut melihatku, ia mundur beberapa langkah dan tersenyum canggung. “Oh, hai Hana,”

Aku mencoba menormalkan detak jantungku dan tersenyum kepadanya. Aku menebak sepertinya Alta akan mengirimkan puisi ke klub mading, dan ternyata dugaanku benar. Alta memberikan puisinya padaku, aku mengambilnya dan membacanya cepat. “Puisinya bagus.” puji ku. 

Alta tersenyum dan mengucapkan terima kasih, dia kemudian pamit ke padaku aku hanya mengangguk. Aku menahan senyum melihat Alta berjalan dengan cepat. 

Cerpen Cinta Karya Rika Santia Sunari

Bel masuk berbunyi aku masih berdiam diri di ruang mading karena nanti tidak akan KBM sebab guru-guru sedang rapat. Elsa, teman sebangku ku menghampiri ku yang sedang membaca puisi kiriman para murid. “Han, kelapang yuk!”

Aku menggeleng cepat, “Nggak akh, males.” tolakku.
“Ikh, Hana, ayo kelapang. Alta lagi maen futsal tuh.”
Seketika aku menghentikan membaca dan menarik paksa tangan Elsa. “Han, pelan-pelan dong, sakit nih tangan aku.”
Aku segera melepaskan tangan Elsa, “Hehehe,, maaf ya Sa,”

Elsa menggerutu kesal sambil mengelus tangannya.Kami berdua melanjutkan perjalanan menuju lapang. Sesampainya dilapangan, para pemain sudah bersiap-siap. Aku dan Elsa masuk ke kerumunan kelas IPS 4. 

Para suporter berteriak heboh saat Alta dan Jaenal berebut bola. Elsa dan murid perempuan kelas IPS 4 meneriaki nama Jaenal yang sering disingkat menjadi Jaen. Sedangkan kubu sebelah yakni kelas Alta meneriaki nama Alta dengan tak kalah heboh. Aku diam-diam pergi keluar dari kerumunan kelas IPS 4 menuju suporter kelas Alta. Aku berdiri disamping Rena, tetangga ku. 

“Hei, Han!”
“Hei juga, Ren. Aku boleh ikut disini?”
“Boleh, silahkan.”

Rena kembali meneriaki nama Alta, aku juga ikutan meneriaki. Suporter makin heboh saat Deri menggiring bola ke daerah lawan. Aku tegang dan deg-degan melihat Deri di hadang oleh lawan. Aku mendengar Alta berteriak dan memberi isyarat supaya bolanya dioper ke dia. Tanpa membuang waktu dan kesempatan Deri mengoper bolanya ke Alta, Alta langsung menerimanya dan menendang bola itu ke arah gawang. Dan... 

“GOOL!!!”

Kami berteriak kencang, aku bertepuk tangan dengan semangat. Aku tersenyum senang karena Alta berhasil mencetak gol. Saat aku sedang memperhatikan Alta, Alta melirik kearah penonton lalu pandangannya berhenti ke arahku, aku menunduk malu dan kurasakan pipiku memanas. Mungkinkah perasaan ku terbalas? 

***

Keesokan harinya saat jam istirahat, Deri teman sebangku Alta menghampiriku yang sedang ngerumpi bersama ketiga temanku. Deri memintaku untuk mengikutinya, ia mengajakku kebelakang sekolah. 

“Ada apa, Der?” tanyaku saat sudah sampai dibelakang sekolah. 
“Ini, aku cuma mau ngasih ini dari Alta buat kamu.” Deri memberikan setangkai bunga mawar putih dan sebuah amplop berwarna pink. 

Aku mengambilnya dan menatap Deri bingung. Saat aku akan bertanya Deri buru-buru berbicara terlebih dahulu. “Nanti jangan dulu pulang ya, Han.”

“Kenapa?” tanyaku bingung. 
“Ya, jangan aja. Nanti kamu akan tau sendiri. Aku duluan, Han.” 

Deri berjalan meninggalkan ku, baru beberapa langkah ia berjalan ia membalikkan badannya. “Kamu mending nanti nunggu didepan kelas aja, Han,” setelah berkata begitu Deri kembali melanjutkan jalannya. 

Aku yang penasaran dengan isi amplop tersebut langsung membuka isinya. Aku seperti kenal dengan kertas loslif ini, seperti kertas yang selalu diberikan Alta kepada klub mading. Apa memang benar ini semua dari Alta? Tanpa membuang waktu aku langsung membaca kertas tersebut. Senyumku mengembang membaca bait perbait puisi yang ditulis Alta untuk ku. 

Sepanjang jam pelajaran aku tak fokus, pikiranku semuanya tenang Alta. Aku tak sabar ingin menanyakan langsung kepada Alta. Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu telah tiba. Aku menghembuskan nafasku dalam-dalam, aku sangat gugup. 

Lima menit aku berdiam diri dikelas namun Alta belum juga datang. Lalu aku teringat pada pesan Deri tadi, aku segera bangkit dan berdiri didepan kelas XI-IPS 1 kelasnya Alta. Aku mengintip dari balik pintu, disana Alta sedang duduk sendirian. Jantungku berdetak makin kencang, aku menyandarkan punggungku kedinding sambil memegang dadaku, aaah.. Bagaimana ini? Aku gugup sekali. 

Saat aku hendak pergi, Alta tiba-tiba saja sudah berdiri didepan pintu. Kami berdua terkejut dan menyebut nama masing-masing. 

“Hana?“
“Alta?”

Kami berdua sama-sama diam dan saling pandang, jantungku berdetak makin kencang. Aku tersadar dan mengerjapkan mataku beberapa kali, Altapun melakukan hal yang sama. 

“Ada apa, Hana?”

Aku gugup dan menggerakkan bola mataku gelisah, aku tersenyum kecil pada Alta untuk menutupi kegugupan ku. Aku lalu berterimakasih untuk puisi yang diberikan oleh Alta. Kulihat Alta mengernyit bingung. Aku kemudian menunjukkan bunga mawar dan puisi kepada Alta. Alta mengambilnya dan membaca puisi tersebut. “Inikan...” Alta mengerjapkan matanya tak percaya. 

Aku mengernyit bingung, kenapa ekspresi Alta seperti itu? Apa mungkin Deri mengerjaiku? Tapi itu tak mungkin karena aku hafal betul itu tulisannya Alta. 

“Puisi itu tentang aku kan?” tanyaku memastikan. 
Kulihat Alta mengangguk pelan. “I-itu tidak seperti yang kau ba-”
Aku segera memotong ucapan Alta, “Makasih puisinya, aku suka kok,  Al,” ucapku sambil tersenyum. Aku menahan tawa melihat Alta yang salah tingkah. 

Altair Bhagaskara kau adalah Bintang yang selalu bercahaya dan menyinari hidupku. 

Profil Penulis:
Nama: Rika Santia Sunari
Ttl: Ciamis, 24 april 1999
Fb: Rika Aldebaran 
Twitter: @Sunny_Aldebaran 
Nama pena: sunnyrisya 

Share This To :
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • LinkedIn
  • Technorati

Artikel Terkait Dengan Cerpen Cinta Karya Rika Santia Sunari

Ditulis Oleh: Gyan Pramesty - Published at : October 29, 2017
Label: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Newer Post Older Post Home

ARTIKEL TERBARU

DMCA Protection | TOS | Privacy Policy | Disclaimer | Author
Copyright 2012-2016. Hak Cipta Di Lindungi Undang-undang
Cerpen Cinta Karya Rika Santia Sunari